Hai kawan.. Masihkah kamu menghirup unsur yang bernama oksigen? atau sekarang kamu sudah menghirup yang namanya DEBU? Lho, kenapa debu? Mungkin kawan-kawan bertanya kenapa mesti debu?
Alam kita yang saat ini mengalami kerusakkan, dan manusialah yang menjadikan kerusakan itu, dimana sejarahnya alam merupakan rumah bagi manusia itu sendiri. Pada zaman awal peradaban manusia, makhluk yang dikenal mempunyai panca indera ini sangat sangat bergantung pada alam. Hal ini karena Tuhan memberikan alam memang untuk manusia. Tapi, masihkah alam yang saat ini ada akan cukup untuk "menghidupi" manusia yang setiap detik semakin banyak dan semakin rakus? Dan apakah alam masih tetap bisa memberikan oksigennya agar manusia bisa tetap hidup dengan normal sedangkan alam terus dirusak oleh manusia itu sendiri??
Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia yang jauh dari Tuhan akan cenderung tidak tahu apa arti kehidupannya, apa arti hidup bagi alam dan bagi manusia lain. Mereka seperti tidak punya arah, terus merusak dan tidak tahu apa akibat dari perbuatan mereka. Mungkin itu hakikat manusia yang sebenarnya. Namun, Tuhan tentu menciptakan manusia bukan untuk merusak dan hilang arah. Tuhan menciptakan manusia tidak lain karena manusia diberi sebuah yang saya sebut keharmonisan, yang dapat bersandingan dengan alam. Manusia memerlukan dan memanfaatkan alam, namun juga semestinya menanam kembali dan mampu melihat mana saja alam yang dapat dimanfaatkan. Tanpa mengeksploitasinya secara berlebihan, serta mampu menahan diri jika tahu sebagian alam tersebut memang tidak bisa dieksploitasi agar tidak merusak keseimbangan alam tersebut.
Tapi, sejarah telah menjadi saksi. Dimana seiring dengan waktu, manusia semakin rakus dan egois dengan alam yang telah menghidupinya. Perusakan secara besar-besaran setiap detik terus saja terjadi. Namun tidak bisa diabaikan pelestarian di sebagian wilayah juga terus dilakukan. Tapi yang jadi pertanyaan, berapa perbandingan antara perusakan dengan pelestarian tersebut? Dan seperti apa laju perusakan dengan pelestarian tersebut? Tentunya kita bisa melihat saat ini, saat dimana perusakan masih mengungguli pelestarian. Kita lebih sering melihat perusakan alam dimana-mana, hampir di seluruh wilayah di dunia. Mungkin di sebagian negara saja. Atau di Indonesia saja. Ya, negara yang saya sebut terakhir adalah negara saya. Negara yang bisa dikatakan sebagian besar wilayahnya mengalami kerusakan alam yang parah.
Bagaimana dengan Kota Samarinda? Kota kelahiran saya. Kota yang memiliki kekayaan alam yang luar biasa banyak, besar, dan indah. Tapi itu dulu, dulu sebelum saya dilahirkan. Ayah saya sering bercerita kepada saya, bahwa kota ini dahulu memiliki udara yang sejuk, baik siang maupun malam karena rimbunnya pepohonan, bukit-bukit yang tinggi serta asri. Seperti hakikatnya negara di kawasan tropis. Ayah saya bercerita, dahulu Sungai Karang Mumus adalah sungai yang sangat jernih, bersih, dan banyak ikan serta binatang sungai yang lainnya. Bahkan terlihat dari atas permukaan sungai tentunya. Tapi itu sejarah. Dan sejarah itu telah digantikan dan dicoret dengan cerita sungai yang keruh, jorok, bau, dan dangkal. Baik itu di anak sungai seperti Sungai Karang Mumus, maupun di induk sungainya yaitu Sungai Mahakam yang tersohor. Tidak ada lagi senyuman yang dahulu menghiasi wajah orang-orang yang melihat sungai-sungai tersebut, sekarang berganti ekspresi miris, menyayangkan, dan coba menghibur diri dengan menikmati puing-puing nikmatnya berdiri di tepian sungai-sungai itu..
Sejarah, manusia, alam. Mungkin kita mesti membalik kalimat tersebut, agar kedepannya kita bisa melihat SEJARAH MANUSIA melestarikan ALAM..
Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia yang jauh dari Tuhan akan cenderung tidak tahu apa arti kehidupannya, apa arti hidup bagi alam dan bagi manusia lain. Mereka seperti tidak punya arah, terus merusak dan tidak tahu apa akibat dari perbuatan mereka. Mungkin itu hakikat manusia yang sebenarnya. Namun, Tuhan tentu menciptakan manusia bukan untuk merusak dan hilang arah. Tuhan menciptakan manusia tidak lain karena manusia diberi sebuah yang saya sebut keharmonisan, yang dapat bersandingan dengan alam. Manusia memerlukan dan memanfaatkan alam, namun juga semestinya menanam kembali dan mampu melihat mana saja alam yang dapat dimanfaatkan. Tanpa mengeksploitasinya secara berlebihan, serta mampu menahan diri jika tahu sebagian alam tersebut memang tidak bisa dieksploitasi agar tidak merusak keseimbangan alam tersebut.
Tapi, sejarah telah menjadi saksi. Dimana seiring dengan waktu, manusia semakin rakus dan egois dengan alam yang telah menghidupinya. Perusakan secara besar-besaran setiap detik terus saja terjadi. Namun tidak bisa diabaikan pelestarian di sebagian wilayah juga terus dilakukan. Tapi yang jadi pertanyaan, berapa perbandingan antara perusakan dengan pelestarian tersebut? Dan seperti apa laju perusakan dengan pelestarian tersebut? Tentunya kita bisa melihat saat ini, saat dimana perusakan masih mengungguli pelestarian. Kita lebih sering melihat perusakan alam dimana-mana, hampir di seluruh wilayah di dunia. Mungkin di sebagian negara saja. Atau di Indonesia saja. Ya, negara yang saya sebut terakhir adalah negara saya. Negara yang bisa dikatakan sebagian besar wilayahnya mengalami kerusakan alam yang parah.
Bagaimana dengan Kota Samarinda? Kota kelahiran saya. Kota yang memiliki kekayaan alam yang luar biasa banyak, besar, dan indah. Tapi itu dulu, dulu sebelum saya dilahirkan. Ayah saya sering bercerita kepada saya, bahwa kota ini dahulu memiliki udara yang sejuk, baik siang maupun malam karena rimbunnya pepohonan, bukit-bukit yang tinggi serta asri. Seperti hakikatnya negara di kawasan tropis. Ayah saya bercerita, dahulu Sungai Karang Mumus adalah sungai yang sangat jernih, bersih, dan banyak ikan serta binatang sungai yang lainnya. Bahkan terlihat dari atas permukaan sungai tentunya. Tapi itu sejarah. Dan sejarah itu telah digantikan dan dicoret dengan cerita sungai yang keruh, jorok, bau, dan dangkal. Baik itu di anak sungai seperti Sungai Karang Mumus, maupun di induk sungainya yaitu Sungai Mahakam yang tersohor. Tidak ada lagi senyuman yang dahulu menghiasi wajah orang-orang yang melihat sungai-sungai tersebut, sekarang berganti ekspresi miris, menyayangkan, dan coba menghibur diri dengan menikmati puing-puing nikmatnya berdiri di tepian sungai-sungai itu..
Sejarah, manusia, alam. Mungkin kita mesti membalik kalimat tersebut, agar kedepannya kita bisa melihat SEJARAH MANUSIA melestarikan ALAM..